Menuju Sekolah Welas Asih dengan Pendekatan Keagamaan

Literasi dalam pembentukan karakter siswa dan pendekatan keagamaan menuju sekolah welas asih menjadi tema Compassionate School Training pada Jumat, 01 November 2019, di Pendapa Wahyawibawagraha.

Sebagaimana diketahui, Compassionate School Training merupakan proses Jember menuju kabupaten welas asih.

Kali ini, pelatihan yang diikuti perwakilan dai 32 lembaga pendidikan ini menghadirkan Husein Ja’far Al Hadar sebagai pembicara. Ia menjelaskan tentang Islam yang berbasiskan pada nilai-nilai cinta kasih,

“Corak Islam tidak hanya dari hukum saja, tapi juga dari sisi kemanusiaan, toleransi, dan secara umum menyebarkan nilai-nilai cinta kasih,” terangnya. Husein berharap ini bisa mencapai visi sebuah sekolah dengan pengajaran berbasis cinta kasih atau welas asih.

“Guru melihat muridnya seperti seorang ibu melihat anaknya. Jadi guru mengajar dengan metode welas asih yang tidak melupakan aspek-aspek kekinian dalam metode pembelajarannya,” jelasnya.

Husein menyebut, pada saat ini guru bersaing dengan media sosial. Waktu anak banyak terkuras oleh media sosial. “Seperti contohnya, media sosial bisa untuk tempat belajar tanpa guru dan lain sebagainya,” katanya.

Maka, seorang guru harus memberikan dasar-dasar welas asih dalam bersosialisasi, juga dalam bermedia sosial.

Guru juga harus memperbaharui pengetahuan tentang isu-isu yang berkembang, sehingga guru memberikan pengajaran Islam welas asih yang terhubung dengan isu yang sedang ramai diperbincangkan.

Menurut Husein, cara menumbuhkan rasa welas asih untuk anak sejak dari dini melalui segi keagamaan yaitu dengan mengajarkan bahwa Islam itu adalah welas asih.

Kedua, perilaku mendidik untuk menjadi pribadi muslim dengan akhlak yang berbasis kepada cinta kasih.

Husein berharap kegiatan ini dapat memengaruhi pola pemahaman terhadap guru terlebih dahulu. Selanjutnya berpengaruh kepada pola pengajaran, baik dari segi isi dan metode pengajarannya yang berbasis welas asih.

Pengetahuan yang didapat dari pelatihan ini diharapkan juga dapat memengaruhi guru di sekolah -sekolah lainnya. “Dan menjadi percontohan bagi sekolah lain, utamanya untuk masyarakat Jember secara umum,” pungkasnya. (mutia/*f2)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *